Dalam perjalanan panjang sejarah kaligrafi Islam, tentu tak lepas dari peran serta para penulis kaligrafi yang berkontribusi nyata memberikan sumbangsih dalam perkembangan kaligrafi Islam di dunia. Tanpa jasa mereka, mungkin kaligrafi Islam bisa punah seiring roda zaman modern yang bisa mengubur warisan budaya umat Islam ini.
Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi Islam di Indonesia
Agak sulit untuk melacak sejarah masuknya kaligrafi Islam di Indonesia. Namun ditemukannya batu nisan di Gresik Jawa Timur yang bertuliskan nama "Fatimah binti Maimun" dengan tulisan Arab yang cukup bagus, diduga merupakan awal masuknya budaya seni kaligrafi Islam di Indonesia, sebagaimana yang diungkapkan Prof. Hasan Muarif Ambary, seorang ahli sejarah Islam Indonesia. Namun secara historis, tahun masuknya Islam adalah saat kaligrafi Arab sudah berkembang di dunia Islam (Baca: Sejarah, Asal-usul dan Perkembangan Kaligrafi Islam).
Ragam jenis kaligrafi Arab atau sering disebut dengan kaligrafi Islam sungguh banyak. Diperkirakan jumlahnya ratusan dan masing-masing memiliki karakteristik yang unik dan berbeda-beda. Menurut Muhammad bin Sulaiman Ar-Rawandi, ada sekitar lebih dari 70 jenis atau macam-macam bentuk huruf kaligrafi. Seiring dengan perkembangannya, jumlah tersebut terus meningkat dan berkembang karena kreasi para seniman kaligrafi yang tak henti-hentinya berkarya dan melakukan inovasi kreatif dalam mengolah jenis-jenis kaligrafi yang ada, sehingga sulit sekali untuk memastikan berapa jumlah total jenis kaligrafi Arab di dunia sejak awal perkembangannya.

Namun dari sekian banyak jenis kaligrafi Arab, setidaknya ada beberapa macam kaligrafi yang sangat populer di dunia Islam yang paling banyak digunakan di dunia hingga kini. Bahkan jenis-jenis kaligrafi tersebut dijadikan kategori dalam berbagai perlombaan kaligrafi Islam di tingkat internasional. Apa saja jenis-jenis kaligrafi tersebut? Berikut uraiannya beserta contoh contohnya.
Kaligrafi Islam atau Kaligrafi Arab adalah salahsatu seni warisan umat Islam yang cukup tua dan masih dilestarikan hingga kini sebagai salahsatu kekayaan budaya umat Islam. Mendengar istilah kaligrafi, masyarakat langsung mengidentikkan dengan kaligrafi Islam atau kaligrafi Arab. Padahal sejatinya kaligrafi bukan hanya ada dalam budaya Islam. Di China juga mengenal kaligrafi yang disebut "shufa", di Jepang juga ada kaligrafi huruf Jepang yang dinamakan "Shodo", bahkan huruf latin yang biasa kita gunakan pun ada juga seni kaligrafinya. Namun mungkin karena Indonesia adalah bangsa yang mayoritas penduduknya adalah muslim dan sekaligus komunitas muslim terbesar di dunia, maka kaligrafi Islam jauh lebih populer daripada kaligrafi yang lainnya. Bahkan, kaligrafi Arab pun bukan hanya 'milik' umat Islam, karena ada juga kaligrafi Arab yang isinya justru berasal dari kitab suci umat Kristen, yaitu Injil (bible).

Arti Kaligrafi dan Asal Usulnya
Kaligrafi secara etimologis berasal dari bahasa Inggris, yaitu "Calligraphy" yang asalnya berakar dari bahasa Yunani yang terdiri dari 2 (dua) kata, yaitu "kallos" yang berarti indah, dan "graphos" atau "graphene" yang berarti menulis. Jadi secara sederhana kaligrafi dapat diartikan sebagai "seni menulis indah".

Sedangkan definisi atau pengertian kaligrafi Islam secara spesifik adalah: "Seni menulis dan merangkai huruf-huruf Arab, untuk mengekspresikan
Anda sering mengetik font Arab untuk menulis al-Quran? Apakah Anda tahu kalau al-Quran memiliki kaidah penulisan tersendiri sejak zaman penulisannya yang  disebut "Rasm Utsmani"? Untuk menghindari kesalahan penulisan al-Quran yang bisa berakibat fatal, sebaiknya Anda harus lebih teliti dengan seksama dan penuh kehati-hatian mengingat al-Quran adalah firman Allah, bukan buatan manusia, sehingga kita tidak bisa seenaknya memodifikasi tulisan al-Quran semau kita. Tapi kini Anda tidak perlu pusing, gunakanlah software yang satu ini, yaitu software khusus yang dirancang untuk penulisan naskah asli al-Quran berikut terjemahannya ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. 

Percetakan al-Quran terbesar milik pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang dipimpin Raja Fahd yang terletak di Madinah Arab Saudi kini meluncurkan software aplikasi untuk mengetik naskah Al-Quran di komputer sesuai standar penulisan al-Quran yang mengacu kepada kaidah Rasm Utsmani versi Madinah. Berikut sedikit 'bocoran' screnshotnya:

Contoh hasil copy-paste in Word Document

Aplikasi Mushaf Madinah khusus komputer yang diluncurkan oleh Pihak Percetakan Al-Qur’an milik Raja Fahd di Madinah,  Dzahran, Arab Saudi, untuk kepentingan Kompleks Percetakan Alquran di Madinah milik Raja Fahd . Aplikasi ini akan dibagikan gratis di semua bagian dunia untuk menyebarkan Al-Quranul Karim.

 

Link Download

Untuk men-download program ini, gunakan salah satu pilihan berikut, tergantung pada kecepatan koneksi internet yang tersedia bagi Anda:

Pertama:  Download Mushaf Madinah dalam satu link (67MB) Klik di sini, kemudian instal program dari folder yang Anda men-download perangkat lunak untuk itu.
Kedua: Download Mushaf Madinah untuk publikasi Komputer terfragmentasi:
A – Download bagian pertama (8MB)
B – Bagian II .. Download (56MB)
C – Gabungkanlah dua bagian diatas dalam satu folder.
D – Install program dari folder di mana bagian dikumpulkan dan ikuti instruksi.

Catatan Penting: aplikasi ini tidak akan bekerja dengan benar jika program tersebut tidak mengeksekusi instruksi di atas.
Program ini Khusus Windows, adapun untuk Apple Macintosh dan Linux saat ini masih dalam pengembangan dan perampungan oleh pihak penyedia.



Kaligrafi Islam | Panduan Tutorial Belajar Kaligrafi Arab dan Wawasan Islam

Jasa Kaligrafi Masjid | Penulis Kaligrafi | Hiasan Kaligrafi Dinding
Menteri Agama saat mengunjungi Percetakan Al-Quran
Banyak umat Islam di Indonesia yang tidak tahu kalau kitab atau mushaf al-Quran yang selama ini kita gunakan bukanlah produk asli Indonesia, melainkan diimport dari negara-negara luar seperti mushaf Bombay (India) atau dari Arab Saudi yang umumnya memiliki kesamaan kaidah penulisan (rasm Utsmani) yang sudah familiar dengan umat Islam di Indonesia pada umumnya. Kenyataan ini amat disayangkan, mengingat Indonesia adalah bangsa muslim terbesar di dunia dan sekaligus bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi kita tidak punya percetakan al-Quran sendiri. Sungguh ironis karena al-Quran adalah kitab suci yang merupakan kebutuhan bagi umat Islam dalam menjalani kewajibannya.

Atas dasar itulah akhirnya pemerintah melalui Departemen Agama RI membangun percetakan khusus Al Quran yang pertama di Indonesia yang berlokasi di Yayasan Pembangunan Islam (YPI), Ciawi, Bogor, Jawa Barat. “Dananya diambil dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sebesar 26 miliar,” kata Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni seusai meletakkan batu pertama pembangunan gedung percetakan Al Quran, di Ciawi Bogor, sebagaimana dikutip dari website resmi Pemerintah Kota Bogor. Menteri Agama mengatakan, "kehadiran percetakan Al Quran diharapan dapat membantu umat Islam, karena selain harganya terjangkau juga dilengkapi terjemahannya. Saya harap, nanti ada Al Quran yang dicetak untuk ukuran saku. Jadi daripada hanya diam melamun, lebih baik baca Al Quran dan sungguh besar manfaatnya", ujar Maftuh.
Menag berharap, Al Quran hasil cetakan dari Ciawi itu sudah dapat terdistribusi pada akhir 2008. Awal Desember 2007 percetakan sudah beroperasi dengan produksi satu juta eksemplar per tahun. "Obsesi saya, dua tahun berikutnya, bisa dicetak Al Quran lima juta pertahun", katanya. 

Maftuh menitip pesan kepada Ketua Yayasan Pembangunan Islam, H. Slamet Anwar, sebagai penanggung jawab percetakan tersebut agar dapat mencetak ulang karya ulama besar Indonesia, seperti kitab karya KH Syech Yasin Al Minangkabawi, Syech Nabawi Al Bantani dan karya ulama lainnya.
Para ulama besar itu, menurut menteri, adalah pemikir besar yang bukunya tetap aktual untuk masa kini. Karena itu karya besar ulama tersebut jika nanti sudah dicetak akan dibagikan secara gratis kepada perpustakaan perguruan tinggi. “Karya ulama itu banyak dijadikan rujukan di universitas terkemuka, termasuk Universitas Al Azhar Mesir,” ujar Maftuh.
Menteri Agama pada kesempatan tersebut kembali menegaskan, Islam tak mengajarkan kekerasan apalagi radikalisme, yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ada di tengah masyarakat. “Radikalisme dan kekerasan tak dibenarkan tumbuh di bumi Indonesia, karena ajaran demikian itu tak ada dalam Al Quran,” kata Menag.
Untuk itu, Menag menganjurkan, kepada umat Islam untuk tak sekedar memperbanyak baca Al Quran tetapi juga memahami dan mendalami kandungannya. (dirangkum dari berbagai sumber terpercaya)

Kaligrafi Islam | Panduan Tutorial Belajar Kaligrafi Arab dan Wawasan Islam